Integrasikan Sains dan Islam, Prodi Matematika UIN Sunan Kalijaga dan UIN Suska Riau Sukses Gelar Mathematics Webinar Seri 13
Program Studi Matematika Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta berkolaborasi dengan Prodi Matematika FST UIN Sultan Syarif Kasim (Suska) Riau sukses menyelenggarakan Mathematics Webinar Seri 13 Forum Dekan FST Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) secara daring melalui Zoom Meeting pada Selasa (29/09/2026). Webinar yang mengusung tema "Peran Matematika dalam Perspektif Islam: dari Teori, Kontribusi, hingga Penerapannya" ini dihadiri oleh para dosen dan mahasiswa dari berbagai PTKIN di seluruh Indonesia. Acara dipandu oleh MC Linggar Utami, S.Mat., dan dimoderatori oleh Hamid Wanendra, S.Mat., Gr., mahasiswa Magister Matematika UIN Sunan Kalijaga sekaligus guru matematika SMP Negeri 3 Banguntapan.
Dalam sambutannya, Dekan FST UIN Suska Riau, Dr. Yuslenita Muda, S.Si., M.Sc., menyampaikan apresiasi atas kolaborasi yang terjalin. Beliau menegaskan pentingnya matematika dalam pengembangan sains, teknologi, dan pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai keislaman. Ia berharap ajang ini dapat memperluas wawasan peserta serta mendorong kerja sama riset dan publikasi. Hal senada disampaikan Dekan FST UIN Sunan Kalijaga, Prof. Dr. Hj. Khurul Wardati, M.Si. Beliau menekankan pentingnya integrasi sains dan keislaman agar lulusan PTKIN tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berakhlak mulia dan bermanfaat bagi masyarakat. Prof. Khurul juga mendorong tindak lanjut kerja sama berupa pertukaran dosen, mahasiswa, hingga penelitian bersama.
Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Ketua Forum Dekan FST PTKIN, Dr. Muhammad Isnaini, S.Ag., M.Pd. Dalam paparan pembukanya, beliau menyampaikan bahwa matematika kini telah menjadi bahasa utama peradaban digital—mulai dari artificial intelligence (AI), big data, kriptografi, hingga komputasi kuantum. "Matematika di FST PTKIN perlu dibawa keluar dari ruang kelas menuju persoalan nyata masyarakat. DNA perguruan tinggi Islam harus hadir, di mana kemajuan sains dan algoritma berjalan beriringan dengan etika, nilai Islam, serta kemaslahatan manusia," tegas Dr. Muhammad Isnaini. Beliau juga berpesan kepada mahasiswa agar tidak takut pada matematika dan memandang ilmu ini sebagai sarana melatih cara berpikir logis, sistematis, kritis, dan objektif.
Sesi materi pertama menghadirkan Fitri Aryani, M.Sc., pakar matematika dari UIN Sultan Syarif Kasim Riau. Ia membawakan topik mengenai Implementasi Neutrosophic Z-Number (NZN) COPRAS pada Pemilihan Supplier Makanan Halal. Fitri menjelaskan bahwa NZN merupakan pengembangan dari himpunan fuzzy yang mampu mengakomodasi ketidakpastian dan tingkat keyakinan (reliability) dari seorang pakar dalam memberi penilaian. Dalam studi kasus metode Complex Proportional Assessment (COPRAS) berbasis NZN untuk pemilihan supplier halal, penilaian linguistik diolah tanpa kehilangan struktur informasi hingga tahap akhir. "NZN bukan sekadar nilai tambahan, melainkan struktur informasi terintegrasi yang memengaruhi proses pengambilan keputusan secara objektif," jelasnya.
Pada sesi materi kedua, Kaprodi Magister Matematika UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Dr. Muhammad Farhan Qudratullah, S.Si., M.Si., memaparkan materi bertajuk Dialog Matematika dan Keuangan Islam: Spekulasi pada Pasar Saham Syariah. Dr. Farhan menyoroti dinamika pasar saham syariah yang tergolong high risk, high return. Ia memformulasikan model pengukuran tingkat spekulasi saham berbasis modifikasi Value at Risk (VaR) dan ekspansi Cornish-Fisher. Berdasarkan data saham Jakarta Islamic Index (JII) 2018–2023, model ini mampu mengelompokkan saham ke dalam kategori bebas spekulasi, spekulasi rendah, sedang, hingga tinggi. "Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok saham dengan spekulasi tinggi justru menghasilkan return negatif (high risk, low/negative return). Model matematika ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan praktis bagi investor untuk menghindari 'saham gorengan' serta menjadi usulan melengkapi kriteria screening saham syariah di Indonesia," terang Dr. Farhan.
Sesi diskusi berlangsung interaktif dengan pertanyaan dari peserta, termasuk akademisi internasional. Menjawab pertanyaan terkait hubungan neutrosophic dan AI, Fitri Aryani menjelaskan bahwa neutrosophic hadir bukan untuk menggantikan AI/machine learning, melainkan memperkaya dan memodernisasi sistem bahan bakar pengolahan datanya. Sementara itu, Dr. Farhan memberikan tips bagi investor muda dan menegaskan luasnya peluang riset matematika dan statistika di sektor keuangan Islam. Rangkaian webinar diakhiri dengan closing statement dari kedua narasumber, penyampaian kesimpulan oleh moderator, serta sesi foto bersama secara virtual. Melalui kegiatan ini, kolaborasi FST PTKIN diharapkan terus berlanjut dalam bentuk jejaring riset, penelitian bersama, pengembangan kurikulum, dan pertukaran akademisi demi memajukan STEM berbasis nilai keislaman di Indonesia.